Saudaraku sekalian, puji syukur senantiasa kita lantunkan untuk mengharapkan ridho ALLAH SWT yang selalu memberikan nikmat kesehatan. Kita patut mensyukuri kesehatan fisik kita ini,npagi hari kita masih diberi nafas yang melegakan, fisik kita masih dijaga dari marabahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam diri kita. Tiada lupa pula akan nikmat iman yang patut disyukuri karena tanpa iman manapula seseorang bisa mengenal keadilan, kearifan serta perilaku baik lainnya di dunia ini.
Sebelumnya saya berterima kasih kepada pembaca yang mau meluangkan waktunya untuk membaca artikel ini. Saya ingin menyampaikan makna suatu hadis yang telah disampaikan kepada saya tentang memilki dunia seisinya. Tiada jauh bunyinya seperti ini, ada 3 perkara yang bila manusia memilikinya di hari itu maka seperti memiliki dunia dan seisinya. Perkara tersebut yaitu aman di dunia, sehat jasadnya dan mempunyai makanan untuk hari itu.
Saudaraku, 3 kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan dasar yang menjadi incaran setiap manusia. Adapaun kebutuhan lainnya setiap orang akan menganggapnya sebagai kebutuhan sekunder atau tersier.
Pada perihal pertama tentang aman di dunia, patut kita syukuri jika suatu hari kita bangun dan merasakan suatu kesenangan dalam hati, kesejukan dalam hati dan tiada masalah yang menghantui kita. Bandingkan dengan orang yang ketika bangun langsung merasa gundah dihatinya, perbuatan yang ia lakukan semalam membuatnya tiada tenang pula. Ia risau, gundah, bingung apa yanng harus dilakukan. Masalah demi masalah ia rasakan bertubi-tubi menimpa dirinya. Di sisi lain, coba kita renungkan bagaimanakah kalau tadi mala itu ada bencana dan tiada keselamatan bersama kita, sungguh apakah ajal sudah menunggu kita.
Perihal yang kedua mengenai sehat jasad, sungguh bersyukur orang yang pada hari itu memiliki kesehatan, ia bisa beraktifitas dengan maksimal. Bisa menebarkan senyum kepada yang lain, ataupun yang sangat dinantikan bisa memeberi manfaat untuk orang lain. Coba kita bandingkan dengan orang yang tak sehat, ia selalu diuji dengan kesakitannya itu. Ada yang bisa bersabar, adapula yang tidak. Sulit sekali untuk menampakkan senyum gembira kepada orang disekitarnya, atau bahkan orang disekitarnya risau dengan kondisinya yang sakit itu. Belum lagi jika ada tugas yang belum tersampaikan, akan selalu terpikirkan bagaimana pula ia bisa menyelesaikan tugas tersebut jika dalam kondisi sakit.
Perihal ketiga yaitu mempunyai makan di hari itu, seperti jawaban umar bin abdul aziz (semoga ALLAH SWT memberikan rahmat kepadanya) yang ditanya tentang penghasilannya. Beliaupun menjawab, “kebaikan diantara 2 keburukan”. Maksudnya tengah-tengah itu lebih baik. Termasuk dalam perihal makan ini,ada kalanya orang yang tidak mempunyai makanan, mereka selalu risau bagaimana aku bisa hidup hari ini. Atau bagaimanakah dengan orang kaya yang mempunyai banyak harta, tetapi selalu dipenuhi kebimbangan untuk apa hartanya dihabiskan yang pada ujungnya mereka gunakan untuk foya-foya. Sungguh ketika seseorang mempunyai makanan hari itu, sangatlah bersyukur. Coba kita renungkan, kalaupun orang tersebut punya banyak uang tetapi tak ada yang menjual makanan, manapula ia bisa merasakan kesenangan. Makan padda hari itu merupakan pengisian energi agara pada hari itu diberikan kekuatan untuk beribadah kepada ALLAH SWT.
Saudaraku, pada poin inti yang ingin saya sampaiakan yaitu tentang sifat qona’ah. Setiap orang akan bersusah payah unntuk mendapatkan 3 hal tersebut sebanyak-banyaknya. Tapi tak jarang pula banyak yang melupakan tuhannya, mereka melupakan rasa syukur, mereka lupa akan tuhannya sehingga mereka sesuka berbuat di dunia ini. Qona’ah merupakan rasa syukur yang seharusnya dimiliki orang setiap orang tapi tentunya bukan memiliki pengertian pasrah.
Coba renunngkan, bangsa ini merasa bahwa sangat tertinggal, mereka merasa sangat kekurangan. Tapai pada ujungnya kekurangan tersebut berujung pada kepentingan individu. Kalau seseorang bisa bekerja giat dan ia menerimanya secara logis tanpa melibatkan nafsu dan amarah maka bisa bersama-sama untuk memajukan bangsa ini.
Saudarakau, pesan yang ingin saya sampaikan yaitu kalaupun orang lain belum bisa berbuat qona’ah, mari kita memulai dari diri sendiri. Jnganlah terlalu banyak menuntut kepada orang lain. Tetapi tiada lupa pula kita untuk senantiasa mendoakan mereka agar diberi hidayah oleh ALLAH SWT. Senantiasa kita istiqomah dalam berbuat qona’ah ini maka insyaALLAH akan menjadi kenyataan apa yang kita harapkan, apa yang kita cita-citakan.
Itulah perihal yang saya sampaikan melalui artikel ini, saya sadari banyak kesalahan dalam penulisannya. Saya berharap ada kritik dan saran yang menanggapai artikel ini. Terima kasih atas kesediaannya untuk membaca artikel ini.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
No comments:
Post a Comment