Assalamu’alaikum
wr. wb.
Puji syukur ke
hadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan banyak kenikmatan kepada hambanya.
Nikmat sehat sehingga hambanya mampu beraktifitas, nikmat iman pula yang
senantiasa menjadikan hambanya menjadi manusia yang bertaqwa.
Bangsa
Indonesia kian lama seharusnya kian maju, maju dari segi teknologo, maju dari
segi ekonomi. Akan tetapi, pada kenyataannya tidaklah seperti yang diharapkan.
Bangsa ini kian lama terlihat kian terpuruk, korupsi semakin meningkat,
teknologi tiada pula berkembang, demonstrasi semakin sering terjadi, kericuhan
antar suku sering muncul dan banyak kasus lainnya. Seharusnya manusia berfikir
mengapa mereka tidak berkembang, mengapa tidak menjadi bangsa yang maju. Oleh
karena itu, ada niatan pula bagi saya untuk mengulas sedikit tentang hal
tersebut.
Menurut
pengamatan saya, sering kita lihat bahwa bangsa ini bergantung kepada bangsa
lain. Produk china banyak yang masuk dan mendominasi perekonmian negara
Indonesia. Tak kalah pula dengan produk jepang yang semakin melejit ataupun
perusahan-perusahaan luar negeri seperti amerika yang sering mengambil sumber
daya alam kita. Lalu dimanakah letak kesalahannya?
Penyebab
pertama yaitu berkaitan dengan mental bangsa kita. Tidakkah kita perhatikan,
sejak zaman dahulu sampai sekarang bangsa kita sangat bergantung kepada bangsa
lain, rasa kepercayaan dirinya seperti tiada. Mereka pesimis terhadap kemampuan
mereka sendiri. Contoh, sumber daya alam di negara kita bisa dikatakan melimpah
tapi pada kenyataannya bukanlah kita yang mengolahnya. Kita seperti monyet yang
hanya melihat orang2 asing mengambil harta kita. Emas kita diambil secara
sembunyi-sembunyi bahkan saat ini bisa dikatakan diambil secara terang-terangan
karena kita sudah tahu tapi tetap membiarkan. Mereka sebenarnya tahu bahwa
orang luar itu mengambilnya tapi karena sikap pasrah, mental takut yang
menyebabkan kata ikhlas dicuri terlewatkan dalam pikiran.
Saudaraku, apa
yang bisa kita ambil dari hal ini. Jika kita terus menerus terkekang dalam
udaya mental rendah ini, bagaimanakah kita bisa maju. Jika kita tak mau merubah
menjadi yang lebih baik, manapula kebaikan datang kepada kita. Ingatkah
bagaimana perjuangan rasululloh saw. Beliau yang berasal dari keluarga yang
kaya, rela melepaskan semua itu, hanya untuk kepentingan umat ini. Beliau
sadar, mental terleha-leha dalam kenikmatan tersebut tidak baik. Beliau lebih
memilih bagaimanakah memupuk mental kuat untuk umat islam ini. Beliau rela
mengalami penderitaan yang begitu mendalam.
Saudaraku,
pilihan kita. Apakah kita tetap berada pada zona nyaman ini, ataukah kita mau
berubah untuk mejadi yang lebih baik. Tapi ingatlah, hidup di dunia ini taklah
lama. Seperti kisah yang rasululloh ceritakan seperti orang yang dalam
perjalanan dan mampir untuk minum saja. Bagaimana kita mau membangun bangsa ini
jika tidak kita mulai dari sejak dini, sejak kita sekarang ini. Apakah kita
hanya kan saling menyalahkan orang lain. Tentu jika kita mengakui bahwa kita
muslim, tiada pula yang mau untuk berada dalam mental enakut ini.
Saudaraku,
ingatlah bahwa suatu saat kitalah yang akan menggantikan generasi lama.
Masalahnya apakah kita seperti mereka, yang mempnyai akhlak buruk atau kita
tetap dalam perilaku yang rasululloh contohkan. Pada perihal pertama ini, mari
kita sama-sama membuang jauh mental penakut ini. Kita tinggalkan zona nyaman
ini. Mari kita berjuang teguh untuk menjadi muslim yang sempurna. Kita
tinggalkan kenikmatan duniawi yang semakin kita mencarinya maka semakin haus
akan kenikmatan itu.
Saudaraku,
terkait penyebab kedua. Teringat akan motto bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal
Eka. Suatu motto yang mantap mengingatkan kita pentingnya untuk bersatu. Prof.
Dr. M. Amien Rais menceritkan bahwa ada beliau bernah bertemu dengan orang
cina, lalu beliau bertanya, “sir, what is your secret of your country success?”
lalu orang cina itu pun menjawab, “we don’t have secret”. Dengan heran pun
bapak Amien Rais bertanya kembali, “no secret!!! So, how can it be?”. Pada
intinya orang cina tersebut menjawab dengan tiga poin inti yaitu berhenti bertikai,
bersatu padu dan bekerja keras. Lihatlah saudaraku, seperti jepang pula, sebuah
negara islam (menerapkan konsep islam) tapi bukan negara islam (karena orangnya
mayoritas bukanlah muslim). Mereka berkap teguh pada kesatuan dan kerja keras.
Coba kita
bandingkan dengan indonesia, antara rakyat dan pemerintahpun tiada satu paham
pula. Mereka lebih mementingkan kepentingan individualis. Antara suku satu
dengan yang lainpun tak jarang pula bertikai. Bagaiamanakah bisa maju kalau
masalah kecil selalu diungkit-ungkit. Keanekaragaman itu bagus, tapi kalau
selalu diperdebatkan, manapula bisa bersatu.
Saudaraku,
poin yang yang ketiga tersebut yaitu bekerja keras. Saya sedikit miris melihat
bangsa ini yang bekerja asal-asalan atau yang penting beres. Mereka berfikir
pendek sekali. Mereka menginginkan hasil yang lebih tapi usahanya tak sebanding
dengan apa yang ingin didapatkan. Apakah sama dengan kita saudaraku?
Pada bagian
ketiga ini, saya menyoroti. Bagaimanakah perilaku kita sekarang ini. Apakah
kita masih mempunyai mental penakut, apakah kita sering bertikai untnuk masalah
sepele, ataukah kita sering bermalas-malasan. Bagaimana pula jika kita sering
prots kepada pemerintah, tapi kita tak pernah mengevaluasi diri kita sendiri.
Janagn-jangan 20 tahunlagi dimana kita yang mengggantikan pejabat pemerintahan,
samapula ketidakbiadaban kita dengan mereka yang sekarang duduk-duduk nyaman
menikmati penderitaa rakyatnya.
Pada
kesimpulan artikel ini, marilah kita tinggalkan mental penakut ini. Kita
wujudkan sikap berani untuk menyatakan yang benar walau itu pahit. Keduanya
marilah kita bersatu padu untuk memajukan bangsa ini, janganlah kita
megedepankan ego kita, mengedepankan kepentingan individualis kita. Terakhir
pula, jika kita ingin hasil yang mksimal, kita harus bekerja keras yang
maksimal pula, jangan kita terlau membayangkan angan-angan kosong.
Sekian dari
saya, saya sadari bahwa ini banyak kesalahan, saran dan kritik selalu saya
nantikan.
Wassalamu’alaikum
wr. wb.
Hasan
Hidayattuloh
(rangkuman
dari pidato Prof, dr. M. Amien Rais
dengan
pengungkapan kembali dengan bahasa saya)
No comments:
Post a Comment