Sore hari saat itu begitu mengenangkan, sang dayat yang "mbeling" itu pergi bersama adik perempuannya. seperti biasa ia bermain2.
saat itu pula, kakek sang dayat sedang membakar sampah. bagi sang dayat, menarik sekali api2 itu.
ia pun mencoba-coba untuk pergi kesana. semakin mendekati api itu, maka semakin menambah ketertarikaannya kepada api itu.
alhasil, ia pun melewati api itu dan tanpa disadari, sang dayat tidak ingat kembali kejadian setelah itu, ia hanya mengingat ibunda sang dayat menggotong ke teras rumah. beliau memoleskan odol ke kaki sang dayat. oh, rupanya jaman dahulu ketika ada yang terbakar kulitnya, diobati lebih dahulu dengan odol. entah kenapa seperti itu.
kejadian itu mengingatkan sang dayat, betapa kawatirnya ibunda sang dayat ketika sang dayat terkena bahaya. sungguh terpancar kasih sayang seorang ibu.
walaupun pengalaman itu membuat sang dayat luka2, sang dayat tidak henti-hentinya berbuat nakal lagi dan ia dikenal sebagai anak yang "mbeling" oleh ibunya.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat
Wednesday, January 23, 2013
Mulai Terlahir di Dunia yang Fana ini
Jumat kliwon merupakan hari yang unik.
Itulah hari kelahiran Sang Dayat.
Tepatnya 18 September 1992 atau dalam tahun hijriyah yaitu 20 Rabiul Awal 1413.
Hari itu, telah lahir bayi mungil dari seorang ibu bernama Warsiani. Ibu yang saat itu sedang menyusui kakak Sang Dayat.
Ada hal menarik yang dari bayi itu, konon kata ibunya, sang dayat terlahir dengan rupa yang aneh.
ia terlahir dengan bulu rambut yang banyak, sehingga banyak yang mengiranya mirip kera. cukup aneh sampai-sampai ketika sang dayat sudah dewasa, sang dayat keheranan sendiri, "saat ini saya manusia, kenapa dulu katanya banyak rambut sampai seperti kera".
begitulah keheranan sang dayat.
sang dayat terlahir dengan kondisi yang cukup lemah, sering sakit-sakitan dan sering menangis.
hal menarik lainnya dari sang dayat yaitu tempat kelahirannya.
di aktanya tertulis bahwa ia lahir di jakarta tetapi ia sebenarnya lahir di magetan.
maklum, saat itu petugas desa tidak banyak tahu tentang keluarga sang dayat sehingga tertukar dengan kakaknya. lumayan bagi sang dayat , keanehan ini bisa menjadi bahan cerita masa lalunya.
begitlah cerita kelahiran sang dayat.
Itulah hari kelahiran Sang Dayat.
Tepatnya 18 September 1992 atau dalam tahun hijriyah yaitu 20 Rabiul Awal 1413.
Hari itu, telah lahir bayi mungil dari seorang ibu bernama Warsiani. Ibu yang saat itu sedang menyusui kakak Sang Dayat.
Ada hal menarik yang dari bayi itu, konon kata ibunya, sang dayat terlahir dengan rupa yang aneh.
ia terlahir dengan bulu rambut yang banyak, sehingga banyak yang mengiranya mirip kera. cukup aneh sampai-sampai ketika sang dayat sudah dewasa, sang dayat keheranan sendiri, "saat ini saya manusia, kenapa dulu katanya banyak rambut sampai seperti kera".
begitulah keheranan sang dayat.
sang dayat terlahir dengan kondisi yang cukup lemah, sering sakit-sakitan dan sering menangis.
hal menarik lainnya dari sang dayat yaitu tempat kelahirannya.
di aktanya tertulis bahwa ia lahir di jakarta tetapi ia sebenarnya lahir di magetan.
maklum, saat itu petugas desa tidak banyak tahu tentang keluarga sang dayat sehingga tertukar dengan kakaknya. lumayan bagi sang dayat , keanehan ini bisa menjadi bahan cerita masa lalunya.
begitlah cerita kelahiran sang dayat.
Wednesday, January 2, 2013
Organic Rankine Cycle (ORC)
Negara
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar
13.667 pulau. Negara yang disebut pula sebagai negara nusantara memiliki
populasi lebih dari 200 juta jiwa. Dari jumlah pulau yang ada, hanya sekitar
6000 pulau yang sudah dihuni. Dengan jumlah pulau yang relatif banyak,
Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak sumber daya alam. Pulau-pulau
besar seperti jawa, sumatera, kalimantan dan lain-lain sudah mempunyai
teknologi yang cukup memadai untuk mengolah sumber daya alam tersebut. Oleh
karena itu, banyak sumber daya alam yang diolah di kota-kota besar.
Saat
ini, pulau-pulau kecil yang berada di Indonesia mengalami kesulitan pengolahan
sumber daya alam dikarenakan sedikitnya pasokan energi listrik yang masuk ke
pulau-pulau tersebut. Energi listrik lebih banyak didapatkan dari kota-kota
besar sehingga pulau-pulau kecil ini bisa dikatakan belum mandiri. Banyaknya
pulau-pulau kecil di Indonesia menyebabkan disentralisasi teknologi sangat
diperlukan. Disentralisai teknologi ini merupakan penerapan teknologi yang
meliputi daerah masing-masing tanpa ketergantungan pusat kota.
Alternatif
disentralisasi teknologi yang dapat dipakai yaitu sistem pembangkit Organic
Rankine Cycle (ORC). Sistem ini membangkitkan listrik dari sumber energi
terbaharukan dengan memanfaatkan sumber panas bertemperatur dan bertekanan
rendah. Siklus Rankine Konvensional dengan refrigeran digunakan sebagai fluida
kerja untuk menghasilkan listrik dimodifikasi menjadi Organic Rankine Cycle (ORC)
dengan fluida organik sebagai fluida kerja yang memiliki titik didih
yang rendah.
Sistem
pembangkit ORC mempunyai 4 komponen utama yaitu evaporator, turbin, kondensor
dan pompa. Evaporator digunakan untuk menguapkan fluida organik dari fasa cair
menjadi uap panas sebelum dimasukan kedalam turbin. Turbin digunakan untuk
mengekspansi dan menurunkan tekanan fluida organik. Turbin ini disambungkan
dengan generator yang akan menghasilkan listrik. Setelah melewati turbin,
fluida kerja akan dicairkan dalam kondensor yang selanjutnya akan dipompa
menuju evaporator. proses ini tidak jauh berbeda dengan siklus Rankine
Konvensional.
Perbedaan
siklus Rankine Konvensional dengan ORC ditampilkan dalam tabel.1
Tabel.1
perbedaan Siklus Rankine Konvensional dengan ORC
|
Kriteria
|
Siklus Rankine Konvensional
|
ORC
|
|
Fluida kerja penghasil uap
|
Air
|
Organik
|
|
Tempat pemanasan
|
Boiler sebagai penambahan panas
|
Evaporator sebagai penyerapan panas
|
Instalasi
sistem pembangkit ORC dapat diamati pada gambar.1
Gambar.1
Contoh instalasi sistem Organic Rankine
Cycle
Keuntungan
penggunaan sistem pembangkit ORC yaitu lebih sederhana dibanding via gasifikasi
biomassa + motor bakar gas/diesel ketika berbahan bakar biomassa. Biaya yang
dibutuhkan sekitar 5 kali lipat lebih kecil dari pemanfaatan energi terbarukan
lainnya. Selain itu, efisiensi naik sekitar 3 kali lipat lebih besar
dikarenakan penangkapan panas berlebih yang terbuang.
Saat
ini Amerika Serikat, Australia dan beberapa negara di Eropa sudah memanfatakan
sistem pembangkit ORC. Sedangkan di Indonesia belum ada penerapannya. Oleh
karena itu diperlukan pembuatan proyek demonstrasi pembangkitan listrik skala
kecil sistem ORC.
Sumber
Referensi :
Subscribe to:
Comments (Atom)
